Medan, 28 Mei 2026. Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan biologi. Seorang alumni Jurusan Tadris Biologi UIN Sumatera Utara (UINSU), Syaiful Azhar, S.Pd, bersama murid bimbingannya Muhammad Abdul Azis dari MAN Pematangsiantar, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional.
Keduanya sukses meraih Juara 2 (medali perunggu) dalam Kompetisi Seni Botani 2026, sebuah ajang ilustrasi botani bergengsi yang diselenggarakan oleh The Chinese University of Hong Kong (CUHK). Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran biologi tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat berkembang hingga level global melalui kreativitas dan riset lapangan.

Karya ilustrasi yang ditampilkan Azis mengangkat spesies Rubroshorea pinanga (Scheff.) P.S. Ashton & J. Heck, yang digambarkan secara detail mulai dari cabang berbuah, daun, kuncup bunga, biji, hingga kulit batangnya. Spesies tersebut ditemukan dalam ekosistem hutan kaya keanekaragaman hayati di kawasan Kamp Konservasi Gajah Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Spesimen yang menjadi objek ilustrasi itu sendiri diperoleh dari kegiatan field trip mata kuliah Ekologi dan Botani Program Studi Tadris Biologi UINSU. Dalam kegiatan tersebut, Syaiful Azhar turut berperan sebagai pendamping lapangan bersama tim alumni lainnya.
Lebih dari sekadar karya seni ilmiah, ilustrasi ini juga mengangkat isu penting tentang konservasi. Rubroshorea pinanga merupakan spesies endemik yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi tinggi, terutama karena bijinya dapat dimanfaatkan dalam industri minyak nabati untuk kosmetik, pangan, hingga farmasi. Meski saat ini masih dikategorikan Least Concern oleh IUCN, ancaman seperti deforestasi dan alih fungsi lahan terus membayangi keberadaannya.


Melalui karya tersebut, Azis dan pembimbingnya ingin menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya kesadaran konservasi sejak dini. Mereka menegaskan bahwa pembelajaran berbasis lapangan memiliki peran besar dalam membentuk calon pendidik biologi yang peka terhadap isu lingkungan.
Dalam keterangannya, Syaiful Azhar menyampaikan harapannya agar prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan guru muda lainnya.
“Pengalaman lapangan bukan hanya tentang mengenal spesies, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa peduli. Dari situlah lahir karya dan prestasi yang berdampak,” ujarnya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara guru dan peserta didik, ditopang oleh pengalaman akademik yang kuat, mampu melahirkan capaian yang diakui hingga tingkat internasional.
“Prestasi besar dimulai dari bimbingan yang tulus, ketekunan, dan keberanian untuk terus menginspirasi.”
